Oleh: sabenisite | Oktober 9, 2008

RENUNGAN IEDUL FITRI 1429 H

KEMBALI FITRAH CITA-CITA  MULIA  SETIAP INSAN BERIMAN

Oleh Drs. M. Sabeni, MA

“Dan ketika Tuhanmu mengeluarkan anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): Bukankah Aku ini Tuhanmu?.Mereka menjawab:”Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi. (QS. Al A`râf: 172)

Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,

Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu Termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah,

Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.

Dan apabila manusia disentuh oleh suatu bahaya, mereka menyeru Tuhannya dengan kembali bertaubat kepada-Nya, kemudian apabila Tuhan merasakan kepada mereka barang sedikit rahmat daripada-Nya, tiba-tiba sebagian dari mereka mempersekutukan Tuhannya,

Sehingga mereka mengingkari akan rahmat yang telah Kami berikan kepada mereka. Maka bersenang-senanglah kamu sekalian, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu” (QS Al-Rum : 30-34)

“Setiap anak Adam dilahirkan dalam keadaan fitrah: kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani dan Majusi (HR. Bukhari

Hari-hari dan malam Ramadan tahun 1429 yang penuh berkah, rahmat dan ampunan berlalu sudah. Kita berharap dan berdoa semoga Allah SWT berkenan menerima seluruh amaliah Ramadan kita baik yang wajib maupun yang sunnah dan segala dosa diampunkan. Kini, tibalah saatnya kita menyambut hari kegembiraan dan kemenangan bagi orang-orang yang beriman tangguh berhasil menyelesaikan ibadah Ramadan terutama saum yang sudah ditetapkan oleh Allah yaitu Ied al- Fitriy (kembali fitrah).

Idul Fitri terdiri dari dua kata. Pertama, kata ‘id yang dalam bahasa Arab bermakna `kembali’, dari asal kata ‘ada. Ini menunjukkan bahwa Hari Raya Idul Fitri ini selalu berulang dan kembali datang setiap tahun. Ada juga yang mengatakan diambil dari kata ‘adah yang berarti kebiasaan, yang bermakna bahwa umat Islam sudah biasa pada tanggal 1 Syawal selalu merayakannya (Ibnu Mandlur, Lisaanul Arab).

Dalam Alquran diceritakan, ketika para pengikut Nabi Isa tersesat, mereka pernah berniat mengadakan ‘id (hari raya atau pesta) dan meminta kepada Nabi Isa agar Allah SWT menurunkan hidangan mewah dari langit (lihat QS Al Maidah 112-114). Mungkin sejak masa itulah budaya hari raya sangat identik dengan makan-makan dan minum-minum yang serba mewah. Dan ternyata Allah SWT pun mengkabulkan permintaan mereka lalu menurunkan makanan.(QS Al-Maidah: 115).

Jadi, tidak salah dalam pesta Hari Raya Idul Fitri masa sekarang juga dirayakan dengan menghidangkan makanan dan minuman mewah yang lain dari hari-hari biasa. Dalam hari raya tak ada larangan menyediakan makanan, minuman, dan pakaian baru selama tidak berlebihan dan tidak melanggar larangan. Apalagi bila disediakan untuk yang membutuhkan.

Menjelang akhir Ramadan aktivitas masyarakat lebih terfolus kepada aktvitas yang bersifat artificial seperti menghias dan memperbaharui rumah, menyediakan makanan yang lezat-lezat dan berharga mahal, membeli pakaian baru, tradisi mudik yang penuh resiko menjadi bagian yang tak terpisahkan setiap datangnya hari raya sebagai ungkapan rindu terhadap kampong halaman yang sudah lama mereka tinggalkan.

Pada malam tanggal 1 Syawal takbir dan tahmid menggema memuhi jagad raya sampai datangnya salat Ied al- Fitry pada pagi harinya, Umat Islam tua, muda, remaja dan kanak-kanak, laki-laki dan perempuan dengan berpakain baru keluar dari rumah menuju masjid dan tanah lapang untuk menunaikan salat Ied al- Fitry sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat yang Allah berikan.

Penuhnya masjid dan tanah lapang dapat kita jadikan indicator kesadaran Bergama mayoritas umat Islam yang baru mampu melaksanakan ibadah hanya pada saat hari raya. Setelah menunaikan salat dan mendengarkan khutbah, mereka keluar dari masjid dan tanah lapang menuju rumah masing-masing untuk menemui anggota keluarga seraya berucap min al-‘aaidin wal al-faizin kullu aam waantum bikhoirin. Ungkapan ini menggambarkan adanya keinginan untuk kembali kepada kessucian diri (fitrah) yang dibaratkan oleh Rasulullah seperti bayi yang dilahirkan oleh ibunya. Masing-masing keluarga memiliki tradisi yang berbeda-beda yang berasal dari budaya lingkungan mereka dibesarkan.

Setelah saling bermaafan antara anggota keluarga, barulah mereka melebarkan sayap kemenangan kepada sanak saudara baik yang jauh maupun yang dekat, tetangga. Teman sejawat dan lainnya sebagai upaya mengembangkan silaturahim dan memperoleh kemaafan atas segala kesalahan yang pernah dilakukan. “Kembali Fitrah” (ifthaar). Kembali kepada fitrah ada kalanya ditafsirkan kembali kepada keadaan normal, kehidupan manusia yang memenuhi kehidupan jasmani dan ruhaninya secara seimbang. Sementara kata fithrah sendiri bermakna `yang mula-mula diciptakan Allah SWT` (Dawam Raharjo, Ensiklopedi Alquran: hlm 40, 2002). Berkaitan dengan fitrah manusia, Allah SWT berfirman dalam Alquran: “Dan ketika Tuhanmu mengeluarkan anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): Bukankah Aku ini Tuhanmu?.

Mereka menjawab:”Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi. (QS. Al A`râf: 172).” Ayat ini menjelaskan bahwa seluruh manusia pada firtahnya mempunya ikatan primordial yang berupa pengakuan terhadap ketuhanan Allah SWT. Dalam hadis, Rasulallah SAW juga mempertegas dengan sabdanya: “Setiap anak Adam dilahirkan dalam keadaan fitrah: kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani dan Majusi (HR. Bukhari).” Hadits ini memperjelas kesaksian atau pengakuan seluruh manusia yang disebutkan di dalam terjemahan Alquran di atas.

Begitu pula, kembali fitrah adalah amanah Allah yang telah ia titipkan terutama fitrah ber-Islam sebagaimana firman Allah pada surat Al-Rum ayat 30 sampai 34 yang artinya sebagai berikut :

Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahu,

Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu Termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah,

Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.

Dan apabila manusia disentuh oleh suatu bahaya, mereka menyeru Tuhannya dengan kembali bertaubat kepada-Nya, kemudian apabila Tuhan merasakan kepada mereka barang sedikit rahmat daripada-Nya, tiba-tiba sebagian dari mereka mempersekutukan Tuhannya,

Sehingga mereka mengingkari akan rahmat yang telah Kami berikan kepada mereka. Maka bersenang-senanglah kamu sekalian, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu” (QS Al-Rum : 30-34)

Imam Abu Muahmmad al-Husayn ibnu Mas’ud al-Baghawy dalam kitabnya Maalim al-Tanzil juz 8 halaman 5 menafsirkan “fitrah” yang diperkuat oleh oleh Ibnu Abbas dan mayoritas para mufassir bahwa yang dimaksud dengan fitrah adalah Islam. Hal senada juga ditafsirkan oleh Imam Muhammad Ibnu Jarir Ibn Yazid Ibnu Katsir ibn Ghalib al-Amily Abu Ja’far al-Thobary dalam kitabnya Jami al-Bayan fi ta’wil al-Quran Juz 20 halaman 97) (Bersambung ke minggu berikutnya)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: